Kampanye

Layanan

Ekspresi

Aksi Solidaritas untuk Nuraini

Ayo Dukung Perjuangan Nuraini

KOIN PEDULI NURAINI adalah cara berlawan Nuraini untuk menuntut UPAH-nya selama 10 Tahun Bekerja di Kuwait dan menuntut pemulihan phisiknya yang lumpuh akibat penyiksaan keji oleh majikannya di Kuwait. 

Ironisnya Rezim Jokowi-JK yg seharusnya membela Nuraini justru membenarkan tudingan majikan yang memfitnah Nuraini dengan tuduhan keji. Rezim penguasa negeri ini bahkan melepas tanggung jawab dan mengatakan kepada Nuraini tidak memiliki anggaran untuk pengobatan Nuraini apalagi menanggung gaji Nuraini dan menyatakan masalah yang dihadapi Nuraini bukan tanggung jawab pemerintah lagi.

Nuraini masih terus berjuang, ingin bisa berjalan kembali seperti semula memperjuangkan masa depannya.
Aksi Penggalangan
KOIN PEDULI NURAINI adalah mobilisasi SEDEKAH kepada Rakyat untuk menolong rezim Jokowi-JK yang MISKIN karena minimnya pundi-pundi anggaran Negara dari DEVISA keringat DARAH Buruh Migran Indonesia bagi pembangunan perputaran EKONOMI di Negeri yang kaya raya ini. 

Rakyat akan memberikan pelajaran kepada rezim Jokowi-JK yang MALU dan TERHINA dengan TKI lalu Nuraini sebagai PAHLAWAN DEVISA mengajak kita berlawan dengan menggalang koin receh untuk disumbangkan ke pemerintah untuk membiayai pengobatan bagi dirinya dan semua BMI yang terluka.... .

Ayo Bersolidaritas Tanpa Batas mendukung perjuangan Nuraini...


Untuk Kawan-Kawan BMI di Luar Negeri silahkan kirim KOIN ke rekening milik Nuraini sendiri di Bank NTB Cabang Sumbawa, Nomor Rekening 0042214716106 atas nama Nuraini.
Lagu protes populer

SBMI, Batam - Berikut ini kami hamparkan 20 lagu protes paling terkenal versi New Statesman, sebuah majalah politik dan kebudayaan di London, Inggris. Majalah ini sudah berdiri sejak tahun 1913 dan, konon kabarnya, didirikan oleh anggota Fabian Society.

20 lagu yang terpilih itu berasal dari berbagai genre musik: lagu-lagu rakyat, Punk, Rock, Ska, Jazz, dan lain-lain. Kedua lagu itu membawa pesan-pesan dan ide-ide yang membuat orang bangkit.

Namun, penjelasan mengenai lagu ini telah kami perkaya dari berbagai sumber lain. Berikut 20 lagu protes paling terkenal tersebut:

1. This Land is Your Land (Woody Guthrie)

woody_guthrieBanyak  menyebut lagu ‘This Land is Your Land’ sebagai lagu kebangsaan kedua Amerika Serikat. Yang Lain bilang, ini lagu versi tandingan kaum marxis terhadap lagu ‘God Bless America’.

Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh Woody Guthrie. Guthrie menulis lagu ini di tahun 1940 dan merekamnya tahun 1944. Kabarnya, Guthrie menulis lagu ini karena jengkel dengan lagu ‘God Bless America’-nya Irving Berlin, yang tak henti-hentinya diputar di radio.

Lagu ini merupakan refleksi Guthrie setelah melakukan perjalanan panjang dari barat ke pantai timur Amerika. Di perjalanan itu ia bertemu dengan gelandangan, pekerja migran yang terlunta-lunta, dan petani yang tertekan oleh depresi ekonomi.

Lirik lagu ini mengalami beberapa kali pengubahan. Sekarang lagu ini menjadi lagu kebangsaannya gerakan rakyat di Amerika. Hampir setiap aksi protes menyanyikan lagu ini. Termasuk saat aksi yang digelar oleh Gerakan ‘Occupy Wall Street’. Sekarang lagu ini banyak dinyanyikan oleh Pete Seeger, Bruce Springsteen, Tom Morello, dan lain-lain.

2. Free Nelson Mandela (The Special AKA)

Lagu ‘Free Nelson Mandela’ pertama kali dirilis tahun 1984 sebagai bentuk protes atas penangkapan dan pemenjaraan terhadap aktivis pembebasan Afrika Selatan, Nelson Mandela.

Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh band asal Coventry, Inggris, yakni The Special AKA. Lagu ini pernah menempati urutan ke-9 tangga lagu di Inggris dan sangat populer di Afrika.

Penulis lagu ini, Jerry Dammers, tidak begitu yakin lagi akan melahirkan pengaruh kuat dan terkenal. Pada kenyataannya, lagu ini sangat terkenal ke penjuru dunia. Bahkan, lagu ini selalu dinyanyikan saat pawai atau aksi massa ANC (Kongres Nasional Afrika).

3. The Times they are a-Changing (Bob Dylan)

Bob+DylanThe Times They Are a-Changin adalah lagu yang sekaligus menjadi judul album karya Bob Dylan yang muncul di tahun 1964. Ini adalah salah satu lagu protes paling terkenal yang ditulis Bob Dylan.

Lagu ini juga menjadi salah satu pembakar spirit perlawanan dan protes sosial di tahun 1960-an. “Ini jelas sebuah lagu yang punya tujuan,” katanya. “Gerakan hak-hak sipil dan gerakan musik kerakyatan akan sangat dekat untuk sementara dan beraliansi saat itu.

Pada tahun 1960, Bob Dylan merupakan salah satu dari sekian penyanyi yang menjadi icon musik protes. Lagu-lagunya langsung menohok isu-isu politik, seperti hak-hak sipil warga kulit hitam Amerika, anti-perang, anti-militerisme, dan lain-lain.

4. Strage Fluit (Billie Holiday)

“Strange Fruit” adalah satu lagu terkenal yang dinyanyikan oleh Billie Holiday, seorang penyanyi jazz Amerika terkemuka. Lagu ini mulai dibuat dan direkam tahun 1939. Lagu ini diambil dari pusisi Abel Meeropol, seorang Yahudi yang menjadi aktivis Partai Komunis.

Lagu ini memprotes praktek ‘hukuman gantung’ yang berlangsung di Amerika Selatan. Sebagian besar yang digantung adalah kaum budak atau keturunan Afro-Amerika. Tercatat, sedikitnya 3,446 kulit hitam dan 1297 kulit putih dihukum gantung sejak 1882 hingga 1968.

Lagu ini cukup populer dan masuk daftar 20 lagu terbaik sepanjang masa. Lagu ini sekaligus melambungkan nama Billie Holiday dengan suaranya yang luar biasa untuk terus dikenang dalam sejarah lagu politis di dunia.

5. La Marseillaise (Claude De Lisle)

La Marseillaise adalah salah satu lagu patriotik di saat meletusnya Revolusi Perancis. Lagu ini ditulis oleh komposer Perancis yang juga bekerja sebagai tentara, Claude Joseph Rouget de Lisle.

De Lisle awalnya menulis lagu dengan tajuk  Chant de guerre pour l’Armée du Rhin ( Lagu perang untuk tentara dari Rhine). Lagu ini sangat populer saat revolusi Perancis meletus. Lagu ini dinyanyikan oleh sukarelawan dari Provencal, yang sebagian besar adalah warga biasa, yang berusaha menangkap Raja Louis XVI di bulan Agustus tahun 1792.

Lagu ini kemudian dikenal sebagai La Marseillaise dan dijadikan lagu kebangsaan Perancis pada tahun 1795. Namun, lagu ini sempat dilarang di era Napoleon I, Louis XVIII dan Napoleon III. Kendati lagu ini sangat sukses, tetapi tidak demikian dengan penciptanya. De Lisle meninggal dalam kemiskinan di tahun 1836.

6. Sunday Bloody Sunday (U2)

Lagu “Sunday Bloody Sunday” diciptakan dan dinyanyikan oleh kelompok band Irlandia, U2, untuk mengenang kejadian tragis pada 30 Januari 1972, di kota Derry, Irlandia Utara, saat militer Inggris menyerang pawai damai kelompok hak sipil.

Saat itu, lebih dari 20 ribuan warga Irlandia Utara menggelar aksi damai. Namun, militer Inggris meresponnya aksi damai dengan sangat brutal. Mereka mengirimkan pasukan penerjun payung bersenjata lengkap dan menembaki demonstran. Laporan resmi menyebutkan 27 orang demonstran tewas dalam serangan brutal itu.

Lagu ini masuk dalam album “War”, yang diluncurkan Februari 1983. Lagu “Sunday Bloody Sunday” menjadi lagu protes paling terkenal dan selalu dinyanyikan U2 di setiap konsernya selama 25 tahun. Bono, pentolan U-2, yakin bahwa musik bukan sekedar hiburan, tapi lebih dari itu. Menurutnya, musik bisa mengubah sebuah generasi. “Lihatlah apa yang terjadi dengan Vietnam. Musik mengubah seluruh generasi untuk bersikap terhadap perang,” katanya.

7. Internationale (Eugène Pottier)

eugene-pottierInilah lagu yang membangkitkan klas tertindas dan terhisap di seluruh dunia untuk bangkit melawan. Inilah lagu “Internasionale”, karya Eugène Pottier, seorang buruh dan sekaligus sosialis Perancis.

Lagu ini sudah diterjemahkan dalam hampir semua bahasa di seluruh dunia. Lagu ini menjadi lagu kaum proletar di seluruh dunia yang berjuang untuk pembebasan sejati, yakni sosialisme.

Lagu ini diciptakan oleh Pottier di bulan Juni 1871, di saat kaum buruh berhasil membangun kekuasaan proletar pertama di muka bumi, yakni Komune Paris. Pottier sendiri menjadi bagian dari pemerintahan revolusioner tersebut. Vladimir Lenin kemudian menulis, “Komune ditindas, akan tetapi Internasionale-nya Pottier menyebarkan ide-ide Komune ke seluruh penjuru dunia, dan sekarang lagu ini mempunyai daya hidup lebih daripada di waktu kapanpun.”

Lagu ini membakar semangat perlawanan siapa saja yang berjuang untuk keadilan sosial. Tidak hanya kaum sosialis dan kaum komunis. Sampai-sampai seorang demokrat radikal seperti Ki Hajar Dewantara tertarik untuk menerjemahkan lagu ini ke bahasa Indonesia.

8. Shipbuilding (Robert Wyatt/Elvis Costello)

Lagu Shipbuilding ditulis oleh Elvis Costello saat perang Falkland meletus di tahun 1982. Lagu ini mengangkat hal kontradiktif semasa perang Falkland. Saat itu, untuk menggantikan kapal perang yang rusak, galangan kapal tradisional ini pun kembali dibangun.

Namun, berita pembangunan kembali galangan kapal baru ini tidak begitu menyenangkan, sebab anak-anak muda di daerah sekitar galangan kapal juga harus ikut menyerahkan nyawa mereka di dalam perang.

9. God Save the Queen (The Sex Pistol)

Ini adalah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh grup band Punk Rock, Sex Pistol. Lagu ini masuk album Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols, yang diluncurkan tahun 1977.

Lagu ini menentang monarki yang berkuasa di Inggris. Saat itu Inggris dibawah kekuasaan Ratu Elizabeth II. Judul lagu “God Save the Queen” diambil dari lagu kebangsaan Inggris.

God Save the Queen punya lirik yang sangat pedas: God save the queen/ She ain’t no human being/ There is no future/ In England’s dreaming.

Majalah musik Rolling Stone menempatkan ‘God Save The Queen” dalam daftar 500 lagu terbaik sepanjang masa.

10. Jerussalem (Willam Blake)

Lagu ini berasal dari puisi dari seorang penyair Inggris, William Blake. Puisi ini kemudian menjadi lagu oleh Hubert Parry di tahun 1916 dan diberi judul “Jerussalem”. Sejak itu, lagu itu menjadi lagu universal.

Blake, yang gelisah dengan revolusi Industri, menulis puisinya dari cerita  apokrif kunjungan Yesus ke Inggris, yang ada kaitannya dengan konsep ‘kedatangan kedua’ dan pembentukan Yerussalem lain. Sebuah metafora untuk dunia baru yang lebih damai.

Blake mengadopsinya dalam konteks Inggris, di saat Revolusi Industri di abad ke-19, yang ditandai dengan ketakutan terhadap ‘pabrik-pabrik setan’. Ia memimpikan Jerussalem dengan rumputnya yang biru.

11. Won’t Get Fooled Again (The Who)

Won’t Get Fooled Again adalah lagu yang dinyanyikan oleh band Rock Inggris, The Who, pada tahun 1971. Kendati lagu dikategorikan lagu politik, tetapi sebetulnya bentuk sinisme politik.

Si penulis lagu ini, Pete Townshend, pernah bilang, tidak tepat sebuah lagu mendekritkan revolusi. Menurutnya, sebuah revolusi, seperti juga semua aksi, hanya akan mencapai hasil yang tidak pernah kita perkirakan.

Ketika sutradara film  Michael Moore meminta lagu ini dimainkan di bagian penutup film Fahrenheit 9/11, Townshend menolaknya. Jadi, sebetulnya lagu bukanlah lagu protes yang diharapkan bisa menggerakkan mereka yang dijepit ketidakadilan.

12. Killing In The Name (Rage Against The Machine)

RATMLagu Killing In The Name adalah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh band revolusioner asal Amerika, Rage Against The Machine (RATM), pada tahun 1992.

Lagu ini dipersembahkan sebagai bentuk perlawanan terhadap rasisme dan kebrutalan polisi. Lagu ini lahir bersamaan dengan kerusuhan rasial yang terjadi di Los Angeles tahun 1992. Kerusuhan itu dipicu oleh pembebasan 4 polisi kulit putih yang terlibat pemukulan terhadap seorang kulit hitam.

Lirik lagu ini memperlihatkan luapan kemarahan. Kata ‘F**k You’ tercatat 16 kali di lagu ini. Kemudian ditutup dengan teriakan “Motherf**ker!”. Ini kemarahan yang sudah mendidih terhadap rasisme yang terlembaga dalam sistem politik Amerika. Bahkan, di dalam korps kepolisian banyak yang menjadi pendukung organisasi teroris-fasis  Ku Klux Klan.

13. Talkin’ ‘Bout a Revolution (Tracy Chapman)

TracyTalkin’ ‘Bout a Revolution adalah single kedua dari Tracy Chapman. Lagu ini berisi pesan politis agar rakyat miskin bangkit untuk merebut hak-hak mereka. Lagu ini dirilis tahun 1988.

Pada tahun yang sama, Tracy tampil di Konser memperingati 40 Tahun Deklrasi Hak Azasi Manusia. Juga, pada tahun yang sama, ia tampil dalam konser penghormatan untuk Nelson Mandela. Dana yang terkumpul dari konser itu digunakan untuk perjuangan anti-apartheid.

Tracy Chapman, yang sangat mengagumi Nelson Mandela, merasakan kerasnya kehidupan sosial di AS yang rasis. Namun, sikap humanis-nya justru terbangun dari pengalaman itu. Ia kemudian mendedikasikan lagu-lagunya untuk melawan ketidakadilan dan penindasan.

14. Mississippi Goddam (Nina Simone)

Lagu Mississippi Goddam ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi dan pianis Amerika, Nina Simone, pada tahun 1964. Lagu ini merupakan protes atas pembunuhan Medgar Evers, seorang aktivis hak-hak sipil keturunan Afrika di Mississippi.

Lagu ini juga memprotes pengeboman gereja di Birmingham, Alabama, dan pembunuhan empat orang anak kulit hitam. Ia pernah menyanyikan lagu ini dihadapan 40.000 orang di acara aksi Selma to Montgomery marches.

Setelah dirilis, lagu ini menjadi lagu aksi-nya kelompok pejuang hak-hak sipil di Amerika. Lagu ini sempat dilarang di beberapa negara bagian selatan Amerika karena kata-kata “goddam”.

15. What’s Going On? (Marvin Gaye)

Lagu “What’s Going On” direkam tahun 1971 oleh penyanyi R&B Amerika, Marvin Gaye. Lagu ini awalnya disusun oleh Renaldo “Obie” Benson, yang juga penyanyi R&B.

Lagu ini terinspirasi dari kejadian yang disaksikan Benson saat melakukan kunjungan ke Barkeley di tahun 1969. Saat itu ia menyaksikan kebrutalan polisi yang memukuli demonstran. Ia kemudian berusaha menuliskan apa yang disaksikannya. Tetapi tidak pernah selesai.

Sampai kemudian ia bertemu Marvin Gaye dan menawarkan lagu ini. Marvin Gaye meresponnya. Tak lama setelah dirilis, kaset lagu ini laku 2,5 juta kopi.

16. The Revolution Will Not Be Televised (Gil Scott-Heron)

Lagu ‘The Revolution Will Not Be Televised’ diciptakan oleh penyair dan sekaligus penyanyi jazz Amerika, Gil Scott-Heron. Ia kemudian merekam lagu ini pada tahun 1970.

Lagu ini lahir sebagai respon terhadap kehidupan politik di era Presiden Nixon dan ketidakmampuan media mainstream menangkap kehendak atau perasaan rakyat. Judul lagu ini diambil dari slogan populer dari gerakan protes di tahun 1960-an.

Menurut Gil, lagu itu tentang bagaimana mengubah pikiran. “Anda harus mengubah gaya berpikir anda sebelum mengubah jalan hidup anda dan cara anda bergerak.”

17. Redemptiong Song (Bob Marley and The Wailers)

Bob MarleyLagu ‘Redemptiong Song” karya Bob Marley ini ditulis di tahun 1979. Lagu ini terinspirasi oleh pidato yang disampaikan oleh Marcus Garvey, salah satu tokoh pejuang pembebasan Afrika, yang menyerukan bangsa Afrika untuk melakukan ‘emansipasi dari mental budak’.

Ini adalah lagu yang berisi seruan bagi bangsa Afrika, yang baru saja lepas dari perbudakan, untuk melepas mental budak dengan membebaskan pikiran mereka dari rasa rendah diri dan terperintah.

Melalui lagu ini, Bob Marley menebar optimisme kepada bangsa Afrika tentang masa depan yang gemilang: We forward in this generation Triumphantly. Di tahun 2009, seorang penyair Jamaika, Mutabaruka, menyatakan lagu ini sebagai lagu paling populer dalam sejarah Jamaika.

18. Imagine (John Lennon)

john-lennon-photoLagu ‘Imagine’ ditulis dan dinyanyikan oleh musisi progressif  John Lennon, pada tahun 1971. Kabarnya, lagu ini terinspirasi oleh puisi-puisi Yoko Ono di buku “Grapefruit” di tahun 1964.

Lagu Imagine mewakili mimpi John Lennon mengenai masa depan yang dicita-citakan: sebuah dunia tanpa negara, tanpa agama, dan tanpa kepemilikan, dan tanpa keserakahan dan kelaparan.

Sebagian orang menuding itu mimpi atau utopia. Tapi, John Lennon bilang, “you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one/ I hope some day you’ll join us/ And the world will be as one. Lennon sendiri pernah berkelakar, “bayangkan, tidak ada agama, tidak ada negara, tidak ada politik, ini hampir mirip dengan Manifesto Komunis, meskipun meskipun aku tidak terlalu Komunis dan saya tidak tergabung dalam gerakan apapun.”

Obsesi Lennon itu tidak terlepas dari ketidakpuasannya terhadap keadaan. Di tahun 1960-an hingga 1970-an, John Lennon bersama The Beatles aktif dalam gerakan anti-perang, terutama menentang perang Vietnam.

19. Where Have All the Flowers Gone (Pete Seeger)

pete-seegerLagu Where Have All the Flowers Gone adalah lagu rakyat yang diciptakan dan dinyanyikan oleh penyanyi Kerakyatan Amerika, Pete Seeger. Lagu ini ditulis Peter Seeger di tahun 1945.

Lagu ini banyak terinspirasi oleh lagu-lagu rakyat Ukraina yang ada di dalam novel “And Quiet Flows the Don” karya novelis Soviet Michail Sholokhov.

Pete Seeger sendiri adalah pencipta banyak sekali lagu-lagu rakyat Amerika yang populer, seperti We Shall Overcome, If I Had a Hammer, dan Guantanamera.

Pete Seeger sudah 7 dekade lebih menekuni lagu-lagu rakyat dan banyak menginspirasi musisi kerakyatan lainnya. Tak heran, Bob Dylan menyebut dia “Santo”. Karena dukungan dan keterlibatannya dalam memperjuangkan hak-hak sipil, menentang perang, dan melawan segala bentuk keadilan, banyak yang mengusulkan Pete Seeger untuk mendapatkan nobel.

Pete Seeger sangat memegang kuat pernyataan Bertolt Brecht: seni bukanlah cermin untuk menangkap realitas, tetapi sebuah palu yang digunakan untuk membentuk itu. 

20. Glad To Be Gay (Tom Robinson)

Lagu ‘Glad To Be Gay’ adalah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh grup band Punk Rock Inggris, Tom Robinson Band. Lagu ini ditulis oleh Tom Robinson untuk parade Gay Pride di tahun 1976. Sejak itu, lagu ini menjadi lagu kebangsaan kaum gay di Inggris.

Robinson, mantan penyanyi anak-anak di gereja, sangat tertarik dengan politik pembebasan LGBT dan terinspirasi oleh Sex Pistol. Lagu “Glad To Be Gay” merupakan kritik terhadap pandangan diskriminatif sebagian masyarakat Inggris terhadap kaum Gay. Lagu ini juga memprotes tindakan polisi menyerbu bar kaum gay tanpa alasan.
Buruh Migran Perempuan
SBMI, Batam - Perlu adanya koordinasi dan sinergi dalam dalam penanganan TKI/WNI yang bermasalah yang dipulangkan. Demikian inti sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta saat membuka Lokakarya Perlindungan Buruh Migran Perempuan Melalui Penyusunan MoU Kerjasama Daerah Embarkasi/Debarkasi Dengan Daerah Asal Pekerja Perempuan.

Lokakarya ini diselenggarakan oleh Kementrian Negara Pemberdayaan di Hotel Harmony selama dua hari, mulai Rabu (14/10) dan berakhir pada Kamis (15/10).
Lokakarya ini bertujuan untuk memberikan perlindungan buruh migrant yang berada di luar negeri. Bagaimana buruh migran yang bermasalah ini jika dipulangkantidak ke daerah transit melainkan langsung ke daerah asal. Selama ini, buruh migran yang bermasalah pemulangannya dari luar negeri selalu ke daerah transit, seperti Batam, Medan dan Tanjung Pinang.

Dari data yang dimiliki Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI, jumlah TKI di luar negeri sebanyak 7 juta jiwa. Dari 7 juta jiwa ini, 4 juta diantaranya tenaga kerja wanita. Sebanyak 3 persen dari 4 juta jiwa ini merupakan TKW yang bermasalah diluar negeri. Diakui Meutia masih banyak TKW yang tidak melaporkan, belum lagi WNI yang bermasalah di luar negeri. 

Selama ini untuk penanganan TKW yang dipulangkan ke daerah transit, daerah transit selalu terkendala dana untuk pemulangannya. Hal tersebut tidak ditampik oleh Meutia karena Kementrian Pemberdayaan Perempuan juga tidak memiliki anggaran untuk pemulangan TKW yang bermasalah. Kebanyakan, TKW yang bermasalah berasal dariJawa Barat. Hal ini disebabkan karena kurang awasnya mereka ketika akan berangkat bekerja ke luar negeri.
Untuk itu langkah yang harus ditempuh untuk penanganan TKW bermasalah ini adalah melakukan sinergi dari berbagai pihak. Sinergi tidak hanya oleh Deplu, tetapi Dinas Pendidikan juga harus berperan. Bagaimana mencarikan pekerjaan sehingga mereka tidak memilih bekerja di luar negeri. Selain itu proses pengiriman TKW bermasalah sebaiknya langsung ke daerah asal, tidak transit seperti yang dilakukan selama ini.“Banyak juga PPTKIS BLK nya tidak bagus di Indonesia dan ini menjadi masalah,” pungkasnya.

Konsulat General RI di Johor Bahru, Suryana Sastradiredja menuturkan, dalam satu bulan jumlah TKW/WNI bermasalah yang ditangani antara 50-100 orang. Namun mereka tidak langsung dipulangkan melainkan diperjuangkan hak-haknya. Ada yang mendapat perlakukan kasar dari majikan, hamil hingga gaji tidak dibayar.

Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan yang mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan RI, Meutia Hatta membuka lokakarya tersebut mengatakan, bahwa Batam memberi kontribusi dalam pemulangan TKW/TKI bermasalah yang transit di Batam baik yang dari Malaysia maupun Singapura. Yakni dengan menyediakan tempat tinggal (Shelter) yang dikelola oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. yang terletak di Sekupang. Selain diberikan tempat tinggal dan makan, TKW yang bermasalah akan diberikan conseling.
Untuk pemulangan TKW atau TKI yang bermasalah ini, Pemko menganggarkan dana Rp300 juta setiap tahunnya. Wako menyambutbaik lokakarya ini sehingga persoalan TKW bermasalah di luar negeri dapat tertangani. “Mayoritas TKW atau TKI bermasalah yang transit di Batam berasaldari daerah Jawa. Bagi mereka yang ingin kembali ke daerah asalnya akan kita kembalikan. Jika ada TKW yang jiwanya terganggu akan kita tangani di Shelter hingga benar-benar sembuh dan selanjutnya kita kembalikan ke daerah asalnya,”ujar Wako.
Calo Ilegal
sumber photo: timoroman
SBMI, Kupang - Emosi karena anaknya dikirim secara diam-diam menjadi TKW ilegal di Malaysia, sebuah keluarga mengamuk di rumah warga yang menjadi petugas perekrut TKW ilegal di Kupang Nusa Tenggara Timur. Bahkan, kedua orang tersebut dipukuli oleh keluarga korban yang emosi karena hingga kini tidak mengetahui keberadaan anaknya.

Keluarga ini mengamuk di rumah seorang calo perempuan yang selama ini menjadi perekrut TKW ilegal ke Malaysia. Pasalnya, anak mereka dikirim ke Malaysia tanpa ijin orang tua. Bahkan, 5 tahun sudah, anak keluarga ini tidak diketahui keberadaannya. Tidak puas, keluarga kembali mengamuk ke rumah perekrut TKW lainnya.

Emosi keluarga kembali memuncak hingga memukuli calo perempuan yang diduga mengirim anaknya ke Malaysia. Karena kesal, keluarga membawa kedua penyalur TKW ilegal ini ke kantor polisi.

Keluarga mengetahui anaknya dikirim ke Malaysia berdasarkan informasi dari seorang tkw yang baru pulang ke kampung halamannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pengirim TKW tersebut adalah kedua pelaku yakni F dan A. Keluarga juga mengaku F dan A pernah datang ke rumahnya untuk membujuk anak mereka bekerja ke Malaysia.

Kini, F dan A terus menjalani pemeriksaan untuk megetahui keberadaan korban
BMI di Batam
ilustrasi, Suarapembaharuan
SBMI, Batam - Dua orang Buruh Migran Perempuan atau sering disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW), St (26) dan Yt (21), terpaksa kabur dari sebuah penampungan di Kawasan Batam Centre. Kedua BMI Perempuan ini kabur dari penampungan BP3TKI yang berada di Kawasan Simpang Kara, Batam Centre Selasa (4/8) sekitar pukul 07.00 WIB. Mereka diselamatkan warga saat bersembunyi di masjid yang ada di perumahan Legenda. Warga kemudian membawanya ke Polsek Batam Kota.

Menurut pengakuan St sudah bekerja di Singapura selama 2,5 bulan sebaga pekerja rumah tangga (PRT), karena selama bekerja sakit-sakitan. Bukannya dibawa berobat, St malah dipulangkan majikannya ke Batam ke tempat penampungan perwakilan PT Bina Karya yang ada di Batam. Sesampainya di Batam, St dijemput PJTKI yang memberangkatnya ke Singapura itu di Pelabuhan Batam Centre.

St kemudian memutuskan untuk pulang kampung, namun Pihak PJTKI minta biaya Rp 15 juta. Biaya itu meliputi biaya pelatihan, biaya hidup, dan biaya pengurusan dokumennya untuk berangkat ke Singapura. Karena tidak ada uang sebanyak itu maka St memutuskan kabur bersama dengan Yt temannya. 

St juga mengaku belum mendapatkan gaji dari majikannya di Singapura, hal ini karena dari pertama bekerja, ia dalam kondisi sakit. Melihat Siti sakit, majikannya berangapan Siti menderita flu babi.

Saat ini pihak kepolisian sedang berkoordinasi dengan instansi pemerintahan terkait untuk membantu menangani mereka. St maupun Yt mengharapkan pihak berwenang di Batam dapat membantu menyelesaikan masalahnya. 

Sumber
Pelabuhan Ilegal di Batam

SBMI, Batam - Sebagai wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, menjadikan Batam sebagai gerbang keberangkatan TKI ke Malaysia maupun Singapura. Salah satu fenomena yang ditemukan adalah pemulangan TKI di pelabuhan tikus yang selama ini menjadi fakta di berbagai kawasan pesisir pantai kota Batam, dan salah satunya ditemukan di kawasan pantai Batu Besar Batam.

Pada tanggal 18 November lalu, 143 TKI ilegal berhasil pulang dari Malaysia dengan menggunakan perahu kecil dengan melalui pelabuhan tikus yang ada di kawasan Batu Besar tersebut, para TKI tersebut lebih memilih jalur ilegal daripada melalui jalur imigrasi resmi, permasalahan tersebut terkait dengan dokumen yang dipegang oleh para TKI tersebut merupakan dokumen ilegal, hampir sebagian besar dari mereka bekerja dengan menggunakan paspor kunjungan atau paspor tourist.

“Kalau kita pulang ikut jalur deportasi itu mahal pak, kita dimintai uang sebesar 4000RM, oleh polisi imigrasi Malaysia. Jadi mendingan kita bayar ke tekong aja pak, kita cuma bayar 2 juta aja, bisa pulang ke Indonesia,” ujar salah seorang TKI yang berhasil dimintai keterangan

Permasalahan pekerja migran Malaysia tersebut selama ini menjadi sorotan berbagai elemen masyarakat terutama dari kalangan aktivis yang menentang masalah perdagangan orang, LSM GAT dan Yayasan Embun Pelangi adalah dua lembaga non pemerintah yang dikenal gencar konsen terhadap permasalahan ini.

“Yang jadi permasalahan adalah mengapa mereka lebih memilih jalur imigrasi ilegal daripada memilih jalur imigrasi legal, tentu saja ini ada hal yang tidak beres yang melatar belakangi masalah ini” ujar Syamsul, Ketua LSM GAT.

“Dan yang harus menjadi perhatian adalah upaya apa yang dilakukan oleh pemerintah, untuk mengatasi permasalahan ini, mereka para TKI kita itu sudah disulitkan dengan kondisi mereka dan dengan peraturan-peraturan di Malaysia, setelah mereka pulang ke Indonesia, ya jangan kembali dihadapkan dengan masalah baru di negerinya sendiri, tetapi seharusnya mereka itu di arahkan kepada prosedur tenaga kerja yang benar ” ujarnya menambahkan.

“Dan berdasarkan data yang diperoleh Yayasan Embun Pelangi, telah dilakukan identifikasi terhadap 252 TKI ilegal yang datang dari Malaysia, pada tanggal 12 November 2013, serta melakukan pendataan terhadap 143 TKI ilegal yang datang pada tanggal 18 November 2013, kebanyakan dari mereka adalah para pekerja perkebunan serta pekerja domestik (untuk TKI yang berjenis kelamin perempuan),

“Berdasarkan temuan kami dilapangan, hampir 95% para TKI tersebut menggunakan dokumen ilegal, atau masuk ke Malaysia dengan menggunakan visa kunjungan (visa turis), dan visa tersebut digunakan oleh para TKI untuk keperluan bekerja” ungkap Irwan Setiawan dari Yayasan Embun Pelangi.

“Dan lebih dari 70% kasus perdagangan orang di kota Batam, berasal dari kasus pekerja migran” ujarnya.

Pemerintah kota Batam dalam hal ini telah memberikan bantuan pemulangan terhadap beberapa TKI bermasalah yang dirujukan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor Bahru kepada Dinas Sosial kota Batam,

“Kami melakukan pemulangan TKI B apabila kita mendapat rujukan dari KJRI Johor, dan kita akan pulangkan ke Tanjung Priok dengan menggunakan kapal Pelni, karena selama ini kami telah melakukan kerjasama dengan Pelni untuk pemulangan TKI B tersebut” menurut keterangan Achmad Yani dari Dinas Sosial dan Pemakaman kota Batam seusai ditemui di kantornya. (gugustugastrafficking)
TKI Ilegal
Perahu penyeludup
SBMI, Batam - Sebanyak 14 orang calon TKI ilegal berikut tekong dan 3 orang Anak Buah Kapal (ABK) diamankan Patroli Angkatan Laut Batam di Perairan Pulau Putih Selat Malaka. Calon TKI ini ditangkap karena tidak dilengkapi dokumen.

Para calon TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ini rencananya akan dipekerjakan ke Malaysia. Rata-rata calon TKI ini berasal dari NTB (Nusa Tenggara Barat), Jawa Timur dan Lombok. Patroli Lanal hingga kini masih memburu para sindikat tekong lainnya yang masih berada di perairan Selat Malaka.

Penangkapan TKI ilegal ini berawal ketika Patroli Lanal Batam mencurigai salah satu kapal di tengah laut. Sesaat kemudian speedboat yang berisikan calon TKI ilegal ini mendekati kapal. Sempat terjadi kejar-kejaran antara Kapal Patroli Lanal sesaat akan mendekati kapal speedboat tersebut.

Dari hasil pemeriksaan calon TKI ilegal ini tidak dapat menunjukkan surat-surat resmi ke petugas. 15 orang calon TKI ini beserta tekong dan tiga orang ABK speedboat kemudian dibawa ke pangkalan TNI Angkatan Laut Batam.

Menurut Slamet, para calon TKI ini rencananya akan dipekerjakan ke Malaysia. Setiap orangnya dikenakan biaya transport 700 ribu rupiah hingga 1 juta rupiah. Sedangkan Slamet sendiri meraup keuntungan antara 300 hingga 500 ribu rupiah perorang.

Setelah didata rencananya para calon TKI ini akan diserahkan Dinas Sosial Batam dan Dinas Tenaga Kerja sedangkan para tekongnya akan diserahkan kepihak berwenang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Indosiar)
Buruh migran di perbatasan Malaysia
sumber photo: beritatanjungpinang
SBMI Batam, Kupang - Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nusa Tenggara Timur, Simon Tokan, menyatakan pengiriman tenaga kerja ilegal ke luar negeri semakin marak. Dari data yang ia peroleh, jumlah TKI ilegal mencapai sepuluh kali dari pekerja legal. Tingginya pengiriman TKI ilegal itu pun menambah daftar kasus tenaga kerja di luar negeri.

"Pada saat ini jumlah kasus TKI ilegal di luar negeri dan dalam negeri semakin banyak," kata Simon Tokan kepada wartawan, Senin, 10 Maret 2014.

Simon mencontohkan kematian dua TKI asal NTT yang disekap dan dianiaya majikannya di Medan. Tidak hanya itu, terdapat sepuluh TKI yang telantar di Denpasar, Bali, serta meninggalnya seorang tenaga kerja karena tertembak saat berburu di hutan Malaysia. "Para TKI itu baru diketahui setelah ada kasus," katanya.

Selama ini pemerintah telah berupaya untuk menekan pengiriman TKI ilegal ke luar negeri. Namun, para calo tetap tidak takut untuk mengirimkan TKI secara ilegal. "Pengiriman TKI secara ilegal masih sangat tinggi dari daerah ini."

Pada 2013, sebanyak 4.095 TKI asal NTT dikirim ke sejumlah negara untuk bekerja. Mereka dikirim oleh 64 perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), seperti ke Malaysia, Singapura, Hongkong, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar. 

Menurut dia, TKI tersebut kebanyakan berasal dari Kabupaten Kupang 1.931 orang, Sumba Barat Daya 472, Timor Tengah Selatan 398, Belu 285, Sumba Barat 246, dan Kabupaten Ende 147 orang. "Sedangkan kabupaten lain jumlahnya di bawah 100 orang," katanya. (tempo.co)